Nurul Azizah
Beberapa waktu lalu, konten tentang teman-teman penyandang disabilitas yang mengikuti event olahraga ramai di media sosial. Salah satu konten yang ramai, isinya seseorang yang menangis saat merekam para peserta. Respon ini mungkin muncul karena rasa kagum, haru, atau terinspirasi melihat orang dengan disabilitas yang berpartisipasi dalam ajang olahraga.
Tidak lama setelah itu, salah satu saudara saya mengirimkan sebuah konten lain.
Kontennya meminta penonton untuk “membayangkan sejenak”. Layar dibuat gelap dengan ajakan membayangkan menjadi disabilitas netra. Kemudian suara dihilangkan dengan ajakan membayangkan menjadi teman Tuli. Pada akhirnya, konten tersebut menyampaikan pesan bahwa disabilitas netra dan Tuli mengajarkan kita untuk menjadi kuat dan bersyukur.
Saya membaca konten itu dan, terus terang, hanya bisa menghela napas. Mengapa pengalaman penyandang disabilitas begitu sering kita gunakan untuk mengajarkan orang non-disabilitas tentang rasa syukur?
Rasanya janggal ketika kehidupan seseorang baru dianggap bermakna karena berhasil membuat orang lain merasa lebih beruntung. Seolah-olah pengalaman penyandang disabilitas harus selalu berakhir menjadi pelajaran bagi kita. Lalu, di mana ruang bagi mereka untuk sekadar menjalani dan menceritakan hidupnya sendiri?
Ketika Disabilitas Dijadikan Inspirasi
Penyandang disabilitas sering ditampilkan sebagai sosok yang luar biasa hanya karena melakukan aktivitas sehari-hari. Mereka berolahraga, bekerja, kuliah, bepergian, atau berkarya, lalu kita merasa terharu dan berkata, “Kalau mereka saja bisa, kita seharusnya lebih bersyukur.”
Cara menampilkan penyandang disabilitas semacam ini dikenal dengan istilah inspiration porn. Istilah tersebut diperkenalkan oleh Stella Young, seorang aktivis dan komedian disabilitas, untuk mengkritik cara penyandang disabilitas dijadikan objek inspirasi bagi orang non-disabilitas.
Sekilas, narasi semacam itu terdengar positif. Bahkan, mungkin terasa seperti bentuk apresiasi. Namun, persoalan muncul ketika penyandang disabilitas terus-menerus diposisikan sebagai sosok inspiratif semata karena mereka menjalani kehidupan sehari-hari. Mereka tidak lagi dilihat sebagai manusia dengan hak, kebutuhan, pilihan, pengalaman, dan tantangannya sendiri, melainkan sebagai objek yang keberadaannya digunakan untuk memotivasi atau membuat orang lain merasa lebih bersyukur.
Pertanyaannya: dimana posisi penyandang disabilitas sebagai subjek? Apa yang sebenarnya ingin mereka sampaikan? Apa yang mereka butuhkan? Dan apakah ruang yang mereka masuki memang sudah dirancang agar dapat diakses oleh semua orang, termasuk teman-teman disabilitas?
Dari “Mereka Mengajarkan Kita Bersyukur” ke “Apakah uangnya Sudah Aksesibel?”
Alih-alih berhenti pada rasa haru ketika melihat teman-teman disabilitas berlari, berjalan, atau berpartisipasi dalam acara olahraga, mungkin ada pertanyaan yang lebih penting untuk kita ajukan: seberapa inklusif sebenarnya ruang publik kita?
Kehadiran penyandang disabilitas dalam sebuah acara tentu patut diapresiasi. Namun, kehadiran itu juga seharusnya membuat kita bertanya apakah ruang tersebut memang sudah dirancang untuk semua orang. Kalau kita diminta membayangkan tidak dapat melihat atau mendengar, mengapa pertanyaannya justru berhenti pada bagaimana kita harus menjadi lebih kuat dan bersyukur? Mengapa bukan mempertanyakan apakah penyandang disabilitas sudah memiliki akses yang setara terhadap informasi, pendidikan, pekerjaan, transportasi, teknologi, dan layanan publik?
Disabilitas Bukan Pelajaran Moral untuk Kita
Persoalan disabilitas tidak berhenti pada kondisi tubuh atau indera seseorang. Ada lingkungan, sistem, kebijakan, desain, dan akses yang turut menentukan apakah seseorang dapat berpartisipasi secara setara dalam masyarakat. Karena itu, penyandang disabilitas yang hadir di ruang publik tidak semestinya dipandang dengan rasa kasihan atau dianggap“luar biasa” hanya karena mereka berhasil berada di sana.
Mereka berada di ruang tersebut karena memang memiliki hak untuk berada di sana. Tentu, bersyukur bukan sesuatu yang salah. Kita boleh bersyukur atas kehidupan yang kita jalani dan merasa terinspirasi oleh orang lain. Namun, rasa syukur seharusnya tidak membuat kita berhenti berpikir kritis terhadap hambatan yang masih dihadapi penyandang disabilitas.
Jangan sampai kita begitu sibuk merasa terharu karena melihat penyandang disabilitas hadir di sebuah ruang, sampai lupa bertanya mengapa banyak ruang masih sulit diakses oleh mereka. Sudah waktunya kita berhenti menjadikan pengalaman penyandang disabilitas sebagai pelajaran tentang rasa syukur, dan mulai membicarakan hak, akses, serta ruang yang setara bagi semua, baik di ruang publik maupun ruang digital.
Referensi :
Lydia Moro, Inspiration Porn: What It Is, Why It’s AProblem, and What You Can Do

