Gambar ilustrasi: Seorang laki-laki berkata, "Tidak usah berpanjang-panjang ya, karena kalau terlalu panjang kasihan yang perempuan kalau terlalu lebar kasihan laki-laki"

Berhentilah Bercanda Seksis

Daeng Ipul

Siang hari di sebuah ruangan rapat hotel berbintang di suatu kota. Acara dari sebuah instansi pemerintah provinsi sedang berlangsung, dipandu seorang bapak ASN berusia sekitar 40an akhir berkumis tipis. Dia yang menjadi moderator acara tersebut. Lalu, mungkin karena melihat suasana yang mulai terasa agak membosankan di ruangan yang sejuk di waktu siang itu, dia berinisiatif bercanda.

“Baiklah, kita lanjut saja biar tidak berpanjang lebar. Karena kalau terlalu panjang kasian yang perempuan. Kalau terlalu lebar, kasihan yang laki-laki,” katanya sambil memasang wajah sumringah.

Beberapa orang tertawa, tapi saya justru mengernyitkan dahi. Ketika menoleh ke kanan, kawan saya – seorang perempuan – menoleh ke saya dengan dahi mengernyit juga. Tatapan kami bertemu. Ada rasa tidak nyaman di wajahnya.

“Apa sih?” tanyanya, menunjukkan rasa tidak nyamannya.

Candaan itu mungkin terasa lucu jika dibawakan ketika sebagian besar manusia masih tinggal di dalam gua. Kalau sekarang, kedengarannya justru cringe, kata anak sekarang. Tidak ada lucu-lucunya.

Dalam kesempatan lain ada juga candaan sama yang terlontar, lagi-lagi dari seorang laki-laki. Suasananya hampir sama, sebuah acara semi formal dalam sebuah ruangan hotel. Seorang lelaki berusia mungkin sekitar 50an tahun diberi kesempatan untuk membawakan materi sesuai judul kegiatan tersebut.

Sekali lagi mungkin maksudnya bercanda, mencairkan suasana. Sayangnya, candaannya menurut saya juga lucu kalau dibawakan saat sebagian manusia masih hidup di dalam gua, alias ketinggalan zaman.

“Saya berdiri saja ya, namanya juga laki-laki, harus bisa ‘berdiri’,” katanya sambil tersenyum.

Seperti yang mungkin Anda duga, sebagian orang di dalam ruangan itu ikut tersenyum atau bahkan tertawa ringan. Lucu buat mereka.

“Berdiri” yang dimaksud bapak itu tentu bukan “berdiri” dalam maksud yang sebenarnya, bertumpu pada kaki. Anda pasti bisa menebak “berdiri” apa yang dimaksud oleh si bapak, apalagi karena dia mengaitkannya dengan jenis kelaminnya sebagai laki-laki.

“Humor” – sengaja saya beri tanda kutip – di atas memang bukan hal baru. Saya yakin banyak orang di luar sana yang kerap mendengarnya. Ketika saya menceritakan kejadian di atas, beberapa teman saya pun mengaku pernah mendengarnya. Situasinya hampir sama, sebuah acara non formal dengan jumlah peserta yang cukup banyak.

Entah kenapa, saya sering mendapati laki-laki – biasanya bapak-bapak – yang merasa terdorong untuk melontarkan candaan itu. Ketika melihat ada sambutan positif dari beberapa peserta, dia kemudian merasa lebih percaya diri untuk kembali melontarkan candaan itu di kesempatan berbeda.

Pernah pula dalam sebuah kesempatan belasan tahun lalu, saya menjadi saksi bagaimana seorang bapak-bapak menggunakan tema menyerempet seksual seperti di atas sebagai bahan candaannya. Ceritanya ada seorang perempuan yang karena keadaan terpaksa tinggal berjauhan dengan suaminya. Long distance marriage, kata orang. Suatu hari si suami pulang bertemu istri dan anaknya, dan ini jadi bahan empuk bagi si bapak yang adalah atasan si perempuan ini sebagai bahan candaan.

“Suamimu pulang ya? Wah, pantasan jalanmu jadi aneh. Berapa ronde semalam?” Tanyanya diakhiri dengan tawa menggelegar.

Beberapa orang lain yang ada di ruangan itu ikut tertawa, sementara di perempuan yang dimaksud hanya tersenyum tipis. Ada tanda tak nyaman di mimik wajahnya.

“Sebenarnya sih tidak nyaman, tapi mau bagaimana lagi? Dia kan bos saya,” katanya ketika saya tanya bagaimana perasaannya setelah adegan tadi selesai. Saya memberanikan diri bertanya karena penasaran bagaimana perasaannya mendengar candaan tidak nyaman dari si bos.

Humor Seksis

Secara linguistik, humor seksis adalah bahasa untuk mendiskriminasi salah satu jenis kelamin yang dianggap lebih rendah dari jenis kelamin tertentu. Meski terkadang ada juga humor seksis yang tidak spesifik merendahkan jenis kelamin tertentu, tapi menjadikan hal yang berkaitan dengan seks sebagai sebuah materi humor atau candaan.

Biasanya pelaku humor seksis ini berlindung di bawah kalimat, “Halah, kan cuma bercanda.” Mereka tidak sadar atau sengaja tidak mau tahu bagaimana efek candaan mereka itu kepada orang lain, utamanya kepada objek candaannya.

Sebagian besar candaan ofensif seperti itu memang dilontarkan oleh laki-laki, walaupun saya yakin pasti ada juga perempuan yang melontarkannya. Persentasenya saja yang berbeda jauh. Soal objek, perempuan tentu menjadi sasaran utama.

Mungkin ini berhubungan dengan penempatan perempuan sebagai objek yang lebih lemah dari laki-laki sehingga dianggap pantas dijadikan target humor candaan seksis. Apalagi jika dilontarkan oleh laki-laki yang lebih punya kuasa. Sudahlah dia lelaki, dia pun punya kuasa. Relasi kuasanya jadi berlipat ganda.

Sekarang mungkin sudah semakin banyak orang yang sadar kalau candaan seperti itu tidak lucu lagi atau bahkan ofensif, tapi tetap saja masih banyak yang tidak sadar atau tidak peduli. Jadi jangan heran kalau candaan seperti itu masih sering beredar di sekitar kita.

Candaan seksis seperti yang saya ceritakan di atas mungkin lebih mudah untuk dianggap sebagai candaan yang ofensif, berbeda dengan beberapa candaan lain yang terkesan “lebih halus” tapi sebenarnya tetap saja ofensif.

Sebagai contoh, kalimat seperti “ada yang menonjol tapi bukan bakat,” yang biasanya ditujukan kepada perempuan. Kalimat ini masih sering digunakan, bahkan di tempat umum yang bisa diakses banyak orang seperti media sosial. Sekali lagi, pelakunya kerap bersembunyi di belakang kalimat, “hanya bercanda”, padahal candaan ini tentu saja terasa ofensif karena menjadikan tubuh perempuan sebagai objek.

Saya harus mengakui kalau belasan tahun lalu saya pun pernah melontarkan candaan seksis seperti itu di media sosial. Jadi ceritanya saya dan seorang kawan laki-laki berbagi komentar terkait aktivitas menyusui. Kalau tidak salah kami sempat bercanda dengan bilang, “Kayaknya bagus juga kalau ada acara menyusui ramai-ramai. Kita bisa nonton.” Komentar kami itu mengundang teguran dari seorang kawan perempuan yang lebih senior.

Beliau memperingatkan kami kalau candaan itu termasuk candaan seksis karena menjadikan tubuh perempuan sebagai objek. Dan itu jadi seperti lonceng pengingat di kepala untuk menjadi lebih sensitif pada model candaan seperti itu.

Membuat dunia bebas dari candaan seksis mungkin sangat berat ya, karena akan selalu saja ada orang dengan otak bebalnya yang tidak mau peduli. Beberapa orang bahkan berpikir, “Ribet banget sih para Social Justice Warrior (SJW) ini. Bercanda saja harus diatur.” Kedengaran sangat familiar, tidak?

Buat saya sih alat ukurnya cuma satu. Bayangkan kalau candaan itu dilontarkan ke ibu, saudara perempuan, istri, atau anak perempuanmu. Apakah kamu nyaman? Kalau masih menjawab iya, berarti memang ada yang salah dengan kamu.

Lagipula kalau mau bercanda masih banyak hal lain yang bisa dijadikan objek. Toh pejabat di negeri kita tidak pernah gagal membuat kita tertawa dengan kebijakan atau komentar-komentarnya.

Jadi, yuk berhenti membuat candaan seksis yang sebenarnya tidak lucu itu.

Gambar ilustrasi: Seorang laki-laki berkata, "Tidak usah berpanjang-panjang ya, karena kalau terlalu panjang kasihan yang perempuan kalau terlalu lebar kasihan laki-laki"

Berhentilah Bercanda Seksis

Daeng Ipul Siang hari di sebuah ruangan rapat hotel berbintang di suatu kota. Acara dari ... Read more
siaran pers uu tpks - lbh apik jakarta x safenet

Setengah Hati Perlindungan Hukum Korban Kekerasan Seksual Berbasis Elektronik dalam UU TPKS

Jakarta, 18 April 2022 LBH APIK Jakarta bersama SAFEnet mengapresiasi atas disetujuinya Rancangan Undang-Undang Tindak ... Read more
penyerahan permenppks 14 April 2022

Lindungi Korban, Jangan Hilangkan Harapan

Amicus Curiae dari Koalisi Masyarakat Sipil untuk Pendidikan Tanpa Kekerasan Seksual: Menolak Pengajuan Uji Materiil ... Read more

Awas KBGO

Awas KBGO adalah inisiatif dari SAFEnet/Southeast Asia Freedom of Expression Network yang khusus mengadvokasi isu Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) di Indonesia.